Yang Tak Pernah Malas dan Lupa

angel of deathSeperti biasa, tiap hari Munggu kampung kami selalu bertanding sepakbola dengan kampung sebelah. Lapangannya bergantian, seminggu dikampung kami minggu depan dikampung sebelah. Nah minggu itu giliran kampung kami jadi tuan rumah.

Seperti biasa aku selalu jadi penjaga gawang. Ketika pertandingan babak kedua baru dimulai, aku berhasil menepis tendangan dan bola bergulir kencang menjauhi gawangku. Spontan kukejar bola itu dengan kekuatan penuh. Ternyata aku lupa bahwa beberapa meter dibelakang gawang ada proyek pelebaran jalan. Kebetulan letak lapangan bola dikampung kami lebih tinggi sekitar 5 meter dari badan jalan. Karena lariku sangat kencang, jelas saja aku terlambat mengerem, sehingga aku terjatuh kebadan jalan. Posisi jatuhku terduduk dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Ternyata aku pingsan beberapa jam dan beberapa gigi susuku lepas.
Iya masih gigi susu, karena waktu itu aku masih kelas 4 SD.

———

Sore itu hujan turun sangat deras. Seperti biasa aku dan teman-teman selalu bermain hujan sambil menenteng timba untuk mengambil air hujan yang mengalir deras dari gabungan antara talang rumahku dan rumah tetangga. Air hujan dikampung kami merupakan barang mewah, untuk memasak dan minum. Air sumur kualitasnya sangat buruk, kemerahan dan kadang berbau, jadi cuma bisa untuk mencuci dan mandi saja.

Setelah semua drum dikamar mandi penuh, aku pun mandi. Setelah mandi, belum lagi memakai handuk aku mematikan lampu. Lampu kamar mandi dirumahku tidak ada saklarnya, kalau ingin menyalakan atau mematikan tinggal memutar bohlamnya saja. Karuan saja aku tersengat listrik, bagaimana tidak tersengat, sekujur badan basah kuyup dan kaki langsung menyentuh lantai tanpa alas.

Rasanya sangat aneh, seperti kesemutan menjalar dengan cepat dari ujung kaki naik keatas dengan cepat. Alhamdulillah aku berhasil melepaskan tanganku dari bohlam ketika kesemutan itu sudah sampai dada. Saat itu dikampung kami listrik masih disuplai oleh diesel dengan voltase 100 Volt yang baru menyala menjelang maghrib dan mati menjelang pagi. Apa jadinya kalau PLN sudah masuk kekampung kami.

———

Sore itu aku pulang kerja agak cepat, karena persiapan mau ke dokter. Ketika memasuki jalan Pemuda (depan kantor Gubernur) dari taman Apsari aku langsung membanting stir motorku kearah kiri jalan tanpa menyalakan lampu sein.

Tiba-tiba dari arah samping kiri terdengar suara teriakan seseorang yang motornya melaju sangat kencang hanya beberapa sentimeter dari motorku sampai-sampai hempasan anginnya terasa sekali.

Sejenak aku tertegun dan membayangkan seandainya tadi terjadi kecelakaan tentu saja akibatnya akan sangat fatal.

——–

Akhir-akhir ini alam sangat tidak bersahabat dengan kita. Banyak sekali kejadian yang merengut nyawa manusia. Mulai dari karamnya kapal Senopati Nusantara yang membawa hampir 600 penumpang sampai hilangnya pesawat Adam Air dengan hampir 100 orang penumpang.

Setiap musibah, tragedi yang terjadi semestinya menyadarkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang sama sekali tidak berdaya. Kematian ada disekitar kita, disetiap langkah kita, disetiap kejadian dalam kehidupan kita.

Kematian bisa datang lebih cepat sebelum penumpang Adam Air meneguk minuman pemberian pramugari. Namun kematian juga bisa datang tertatih-tatih dan merangkak seperti ratusan penumpang kapal Senopati Nusantara yang melihat kematian datang berlahan. Tak ada tempat bagi mereka untuk berlindung, ketika maut menggapainya ditempat tersembunyi dan tinggi sekalipun.

Kekuasaan pun tak dapat menolong seseorang dari kematian. Saddam Husain, betapa gagah mantan presiden Irak itu. Seutas tali telah merengut nyawanya. Seutas tali yang sangat tidak berarti apa-apa dibanding popularitas dan pengaruh semasa ia berkuasa.
Kehidupan sesungguhnya adalah tawanan abadi kematian. Tidak ada alat, uang, kekuasaan, dan apapun yang bisa menebusnya. Tidak juga istri dan anak-anak tercinta. Manusia hanya menunggu saatnya tiba.Tidak detik ini, mungkin menit berikutnya. Tidak ketika tertawa, mungkin ketika tersenyum.

Ali bin Abi Thalib berwasiat pada putranya Hasan,

Engkau diciptakan untuk akhirat, bukan untuk dunia fana ini.
Untuk sirna, bukan untuk abadi.
Untuk mati bukan untuk hidup selamanya.
Bahwa posisimu adalah posisi berangkat untuk mengumpulkan bekal.
Dan bahwa engkau tengah berjalan menuju akhirat.
Bahwa engkau telah dikejar oleh kematian.
Tidak ada makhluk yang dapat lari dari kematian.
Karena itu, hati-hatilah selalu dengan kematian.
Jangan sempat engkau dijemput kematian ketika engkau tengah dalam kondisi buruk.

Kematian datang dengan caranya. Kematian selalu hadire disekitar kita. Dia tak pernah malas dan lupa menjemput kita, baik ketika berada diudara, dilaut, dan didarat. Ketika naik pesawat maupun berjalan kaki. Ketika makan maupun saat berhenti. Ketika bangun, maupun tidur. Tak ada tempat sembunyi, tak ada tawar menawar. Lalu, ketika waktunya tiba, mengapa menyesalinya???

Kita sedang dikejar kematian, tak bisa lari, apalagi bersembunyi.

Surabaya, 15 Januari 2007

Maraji’ :
Buletin Jum’at Al-Maidah edisi 02 tahun XVI, Jum’at 12 januari 2007 berjudul “DIJEMPUT KEMATIAN

13 Comments

  1. bimoweb.com June 13, 2008 Reply
  2. bocah June 14, 2008 Reply
  3. tintin June 16, 2008 Reply
  4. penyu June 16, 2008 Reply
  5. beasiswa May 6, 2009 Reply
  6. harga handphone March 29, 2010 Reply
  7. cara cepat hamil July 25, 2013 Reply
  8. Integrity Spas August 19, 2013 Reply
  9. Felipe December 3, 2015 Reply

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *