Tadi pagi ketika lampu trafficlight masih berwarna merah diperempatan Jalan Tunjungan, jalan disisi kiri yang seharusnya lancar (belok kiri kan jalan terus) menjadi macet, penyebabnya karena ada taksi yang berhenti didepan salah satu gang dan banyak orang berkerumun. Tak lama kemudian keluar iring²an orang sambil membopong sesosok tubuh.
Karena posisiku lumayan dekat dengan taksi, aku bisa melihat dengan jelas walaupun hanya sekejap. Yang dibopong adalah tubuh seorang wanita yang kalau dilihat dari wajahnya belum terlalu tua, sekitar 40 tahun-an. Wajahnya putih pucat, sepertinya sedang sakit parah. Tak lama kemudian lampu hijau menyala.
Sepanjang sisa perjalanan kekantor, setengah melamun aku mengucap syukur atas berkah kesehatan yang ALLAH berikan, perbuatan yang sangat jarang kulakukan. Sudah lebih dari seperempat abad hidup ini, belum ada satu penyakit seriuspun yang mampir ke tubuhku, alhamdulillah.
Kesehatan, sebuah kenikmatan dan berkah yang luar biasa besar yang diberikan oleh ALLAH setiap hari pada kita, sehingga kita bisa beribadah dan beraktifitas dengan lancar. Tetapi nikmat kesehatan ini sangat jarang kita syukuri.
Jadi ingat nasehat guru mengajiku saat kecil dulu. Setiap selesai beribadah sholat, hendaknya mengucap syukur, minimal atas 3 hal, yaitu :
- Bersyukur atas nikmat dan berkah keimanan dan keIslaman yang sampai saat ini masih ada pada diri kita.
- Bersyukur atas rizki yang diberikan ALLAH pada kita hari ini.
- Bersyukur atas nikmat kesehatan yang Dia limpahkan pada kita dalam sehari ini.
Dari ketiga poin diatas, poin mana yang paling sering anda syukuri???







0 Responses to “Kesehatan, berkah yang minim syukur”
Leave a Reply