Bila Pisau Berkarat

Disadur dari Buletin Jum’at Al-Maidah, Edisi 47, Tahun XVI

Misalkan sebilah pisau mengkilat yang tajam, pisau itu dititipkan pada orang lain yang memang membutuhkan pisau tersebut. Namanya barang titipan, pada saatnya kelak akan diminta lagi oleh pemiliknya. Bila barang titipan rusak, tentu pemiliknya akan menuntut untuk diperbaiki dahulu.

Solusinya sebilah pisau harus diasah lagi, bila perlu dibawa ketukang pandai besi. Pisau dibakar dengan api yang membara, dipukul berulang-ulang. Hasilnya diasah lagi pisau akan kembali tajam dan mengkilat. Bila demikian, pemilik pisau tadi akan menerimanya kembali dengan senang hati.
Ilustrasi pisau berkilat dan berkarat tadi tak ubahnya manusia yang lahir dalam keadaan suci. Kemudian kesucian itu lambat laun tertutup oleh bintik² hitam noda dosa dan kemaksiatan.

Hidupo ini adalah titipan Allah untuk dipergunakan dengan baik dan beribadah, anak² kita juga titipan Allah yang harus dididik dengan benar. Karena itu bila saatnya nanti ketika Sang dosa, tentu Allah akan murka.

Alternatif yang ditawarkan adalah digiring kedalam api neraka. Ditempat api yang berkobar membara tersebut kemudian dibakar, dicuci dosa²nya. Bile telah usai barulah diterima Allah dan dimasukkan kedalam surga.

Ibarat nasi belum menjadi bubur, Selagi masih ada kesempatan, jiwa yang lahir dalam deadaan fitri ini harus dijaga dan dirawat dengan taat beribadah. memperbanyak taubat dan istighfar, lautan dosa agr dilebur. Bila berhubungan dengan sesama manusia, pintu maaf dan memaafkan harus terbuka. hubungan yang retak dibenahi.

Pintu taubat masih terbuka selagi matahari belum terbit dari barat, selagi nyawa masih bersatu dalam jiwa. Wujudkan taubat dengan beribadah kepadaNya dan menjalin hubungan baik dengan sesama manusia.

Wallohu ‘alam.

2 Comments

  1. Witanto July 2, 2010 Reply
  2. susu kambing April 23, 2015 Reply

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *